Aku jujur aja, awalnya nonton Ballroom e Youkoso itu tanpa ekspektasi besar. Anime tentang dansa ballroom? Kedengarannya bukan tipe tontonan yang biasanya bikin aku langsung klik. Tapi entah kenapa, setelah beberapa episode berjalan, anime ini pelan-pelan narik aku masuk ke dunianya. Bukan cuma soal tarian, tapi soal mimpi, usaha, dan rasa minder yang terasa… dekat banget sama kehidupan nyata.
Kesan Awal
Kesan pertamaku terhadap anime ini: unik dan beda. Di saat anime olahraga biasanya identik dengan sepak bola, basket, atau voli, Ballroom e Youkoso datang dengan tema yang jarang diangkat dansa ballroom kompetitif. Awalnya memang terasa agak “asing”, gerakannya terlihat rumit dan dunianya terasa eksklusif. Tapi justru di situ letak daya tariknya. Aku merasa seperti ikut belajar dari nol bareng karakter utamanya.
Cerita & Feel (Tanpa Spoiler)
Cerita anime ini berfokus pada perjalanan Fujita Tatara, seorang siswa SMA yang awalnya nggak punya mimpi jelas. Hidupnya ngalir aja, sampai suatu kejadian mempertemukannya dengan dunia ballroom dance. Dari situ, hidup Tatara pelan-pelan berubah.
Yang bikin aku suka, perjuangan Tatara terasa sangat manusiawi. Dia bukan karakter jenius yang langsung jago. Bahkan kebalikannya dia sering minder, merasa tertinggal, dan sadar betul kalau dirinya punya banyak keterbatasan. Tapi justru itu yang bikin ceritanya kerasa “kena”. Anime ini nggak jual mimpi instan. Semua pencapaian datang dari latihan keras, jatuh bangun, dan rasa frustasi yang berkali-kali muncul.
Feel yang aku dapet selama nonton tuh campur aduk. Kadang semangat, kadang ikut capek, kadang ikut ngerasa kecil. Tapi di saat yang sama, anime ini juga ngasih dorongan halus: kalau kamu mau berjuang, kamu juga bisa berkembang.
Karakter yang Paling Berkesan
Jelas, Fujita Tatara adalah karakter yang paling berkesan buatku. Bukan karena dia paling keren atau paling jago, tapi karena perjuangannya terasa tulus. Dia bukan tipikal karakter yang percaya diri dari awal. Bahkan berkali-kali dia ragu sama dirinya sendiri. Tapi justru itu yang bikin aku kagum dia tetap maju meski takut.
Selain Tatara, karakter-karakter pendukung di anime ini juga punya aura kuat masing-masing. Mereka bukan sekadar “lawan” atau “teman latihan”, tapi orang-orang dengan ambisi, ego, dan mimpi mereka sendiri. Interaksi antar karakter sering bikin tegang, tapi juga bikin cerita terasa hidup.
Visual / Musik
Untuk urusan visual, Ballroom e Youkoso itu indah dengan caranya sendiri. Ada beberapa scene ballroom yang jujur aja bikin aku merinding. Gerakan tariannya terasa penuh emosi, ditambah musik yang pas banget. Kombinasi dance dan musiknya sering bikin aku lupa kalau ini “cuma” anime olahraga rasanya kayak lagi nonton pertunjukan seni.
Musiknya nggak berisik, tapi kuat. Dia tahu kapan harus tenang, kapan harus menggebu. Dan itu bikin momen-momen penting terasa lebih dalam.
Penutup Jujur
Kalau aku harus jujur, Ballroom e Youkoso bukan anime yang bakal cocok buat semua orang. Temanya niche, ritmenya kadang pelan, dan fokusnya lebih ke proses daripada hasil. Tapi justru itu yang bikin anime ini spesial buatku.
Anime ini sangat memotivasi. Melihat Tatara yang terus berlatih dengan segala keterbatasannya bikin aku ngerasa, oh, ternyata nggak apa-apa mulai dari nol. Nggak apa-apa merasa tertinggal, selama kita mau terus bergerak.
Jika suka dengan anime tema seperti ini, Baca juga Review anime dengan cerita ringan lainnya.
K-ON! - Manis, Random, dan Bikin Senyum Sendiri
Pada akhirnya, Ballroom e Youkoso bukan cuma cerita tentang dansa ballroom. Ini cerita tentang menemukan mimpi, berani melangkah, dan menerima bahwa perjalanan menuju impian itu nggak pernah instan. Kalau kamu lagi butuh tontonan yang bisa nyentuh hati dan pelan-pelan nyemangatin, anime ini layak banget buat dicoba.
Dan buatku pribadi, ini salah satu anime yang diam-diam ninggalin bekas… tanpa perlu teriak-teriak.

0 Komentar